Menyayangi bayi dan anak-anak dengan cara menggelitiknya sepintas tak berdampak kepada masalah apapun. Anak-anak pun terlihat "menikmati" karena tertawa terbahak-bahak.
Namun, siapa sangka banyak teori yang mengatakan menggelitik bisa menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak. Dilansir di Times of India, Sabtu (15/6), menggelitik dapat menjadi hal yang membahayakan karena bayi yang tak berdaya tak bisa memberi tahu apakah dia suka atau tidak atas perlakuan kepadanya.
Bahkan, jika mereka tak suka digelitik sama sekali, mereka juga tak akan bisa mengetahuinya. Ketika bayi merasa terengah-engah pun, bukan berarti mereka menikmati gelitik. Hal inilah yang membuat gelitik bisa menjadi perlakuan yang kejam.
Itulah sebabnya mengapa menggelitik tak boleh sembarangan, paling tidak sampai anak-anak bisa memberi tahu apa yang mereka rasakan ketika digelitik. Terkadang, respons terhadap gelitik yang otomatis keluar, seperti bersin, menjadi sebuah tanda, anak-anak tak selalu menikmatinya.
Kebanyakan orang dewasa pun tidak suka digelitik dan mereka bisa sangat vokal untuk menentang perlakuan itu. Hal demikian juga mengindikasikan bahwa anak-anak juga sebenarnya tak suka digelitik.
Gelitik yang tidak diinginkan juga dapat dilihat sebagai bentuk dominasi karena memperkuat gagasan pada bayi bahwa orang dewasa dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan pada tubuh mereka. Perjuangan untuk mendapatkan kendali atas tubuh mereka sendiri dapat meninggalkan mereka dengan kenangan buruk yang mungkin bertahan seumur hidup.
Secara historis, menggelitik digunakan sebagai cara untuk menyiksa orang, karena menyebabkan rasa sakit. Di Cina, selama Dinasti Han, penyiksaan dengan cara menggelitik sangat terkenal digunakan sebagai cara untuk menghukum para pelanggar.
Gelitik dipilih sebagai hukuman karena dapat menyebabkan banyak rasa sakit tanpa meninggalkan bekas yang terlihat pada tubuh.
Jadi, bila Anda memiliki bayi, sebaiknya jangan menggelitiknya. Ketika anak beranjak besar, Anda harus yakin apakah dia suka digelitik atau tidak.
Jika mereka berkata berhenti menggelitik, maka Anda harus berhenti menggelitiknya. Selain itu, ketika menggelitik, Anda juga harus memperhatikan sinyal, seperti kehabisan napas atau terengah-engah. Bila telah ada sinyal, maka segeralah berhenti.
Menyayangi bayi dan anak-anak dengan cara menggelitiknya sepintas tak berdampak kepada masalah apapun. Anak-anak pun terlihat "menikmati" karena tertawa terbahak-bahak.
Namun, siapa sangka banyak teori yang mengatakan menggelitik bisa menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak. Dilansir di Times of India, Sabtu (15/6), menggelitik dapat menjadi hal yang membahayakan karena bayi yang tak berdaya tak bisa memberi tahu apakah dia suka atau tidak atas perlakuan kepadanya.
Bahkan, jika mereka tak suka digelitik sama sekali, mereka juga tak akan bisa mengetahuinya. Ketika bayi merasa terengah-engah pun, bukan berarti mereka menikmati gelitik. Hal inilah yang membuat gelitik bisa menjadi perlakuan yang kejam.
Itulah sebabnya mengapa menggelitik tak boleh sembarangan, paling tidak sampai anak-anak bisa memberi tahu apa yang mereka rasakan ketika digelitik. Terkadang, respons terhadap gelitik yang otomatis keluar, seperti bersin, menjadi sebuah tanda, anak-anak tak selalu menikmatinya.
Kebanyakan orang dewasa pun tidak suka digelitik dan mereka bisa sangat vokal untuk menentang perlakuan itu. Hal demikian juga mengindikasikan bahwa anak-anak juga sebenarnya tak suka digelitik.
Gelitik yang tidak diinginkan juga dapat dilihat sebagai bentuk dominasi karena memperkuat gagasan pada bayi bahwa orang dewasa dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan pada tubuh mereka. Perjuangan untuk mendapatkan kendali atas tubuh mereka sendiri dapat meninggalkan mereka dengan kenangan buruk yang mungkin bertahan seumur hidup.
Secara historis, menggelitik digunakan sebagai cara untuk menyiksa orang, karena menyebabkan rasa sakit. Di Cina, selama Dinasti Han, penyiksaan dengan cara menggelitik sangat terkenal digunakan sebagai cara untuk menghukum para pelanggar.
Gelitik dipilih sebagai hukuman karena dapat menyebabkan banyak rasa sakit tanpa meninggalkan bekas yang terlihat pada tubuh.
Jadi, bila Anda memiliki bayi, sebaiknya jangan menggelitiknya. Ketika anak beranjak besar, Anda harus yakin apakah dia suka digelitik atau tidak.
Jika mereka berkata berhenti menggelitik, maka Anda harus berhenti menggelitiknya. Selain itu, ketika menggelitik, Anda juga harus memperhatikan sinyal, seperti kehabisan napas atau terengah-engah. Bila telah ada sinyal, maka segeralah berhenti.
Berikut ini alasan yang dikemukan bahaya menggelitik bayi
1. Bayi belum dapat menolak gelitikan
Saat orang tua menggelitik bayi, barangkali bayi memang tertawa. Tapi bukan berarti bayi senang. Hal ini diungkapkan oleh Tiffany Field, Ph.D., direktur di Touch Research Institutes di Sekolah Pengobatan Universitas Miami.
Tertawa adalah respon wajar ketika dikelitik. Namun, bahkan orang dewasa pun belum tentu suka. Apalagi, bayi belum bisa mengatakan kata “stop” seperti layaknya orang dewasa.
2. Bayi “belajar” pasrah diperlakukan apapun
Saat kita menggelitik bayi, bayi belum mampu menggelitik kita gantian. Di sini, bayi mulai belajar bahwa ia akan berada di posisi kalah dan pasrah mengahadapi “serangan” orang dewasa.
Dalam sebuah arikel di Hand and Hand Parenting, permainan tawa seperti itu disebut sebagai permainan yang tidak sehat untuk perkembangan anak.
3. Menggelitik adalah sebuah penyiksaan
Teknik menggelitik adalah salah satu metode yang digunakan untuk menyiksa tahanan Nazi. Penyiksaan ini dilakukan karena tidak ada seorang pun yang tahan dikelitik tubuhnya, apalagi secara agresif.
Anda memang akan tahu sampai mana batasan tertawa bayi. Namun, perlu hati-hati jika sang kakak yang melakukannya. Banyak tertawa bisa membuat bayi tersedak air liurnya sendiri.
4. Menggelitik bukanlah metode sensory yang baik untuk bayi
Sebuah jurnal menyatakan bahwa sentuhan tidak berhubungan dengan sensory bayi. Peneliti melakukan penelitian pada bayi usia 4 bulan dan 6 bulan. Kemudian, bayi tersebut memperoleh getaran yang membuat mereka tergelitik.
Hanya 70% bayi usia 4 bulan yang mengenali di mana sumber getaran. Sedangkan, pada bayi usia 6 bulan, 50% dapat mengenali sumber gelitikan dengan menyinglangkan kedua kakinya.
Peneliti menyimpulkan bahwa menggelitik dengan metode kaki yang disilangkan dan kaki yang tidak disilangkan pada bayi usia 4-6 bulan tersebut hanya menerima sentuhan setara dengan sentuhan pada tubuh yang lainnya. Tidak ada korelasi antara siapa yang menggelitik, apa yang didengar, dan aroma apa yang mereka terima.
Namun nyatanya tidak semua pihak sepakat tentang tidak baiknya menggelitik bayi, ada sejumlah pihak yang pro menggelitik bayi dengan alasan bahwa :
1. Mendekatkan ikatan dengan orang tua
Dalam sebuah risetnya, Charles Darwin menemukan fakta bahwa bayi simpanse akan lebih merespon dan dekat dengan yang lainnya apabila ada yang menggelitiknya. Hal ini dapat berlaku pada mamalia lain seperti manusia.
Ibu yang menggelitik bayi sedang membuat ikatan utama dengan anak. Hal tersebut juga dapat dikategorikan sebagai salah satu program interaksi neurologis ikatan antara ibu dan anak.
2. Melatih sensori bayi
Melatih sensori pada bayi bisa dimulai sejak dini, yaitu dengan anggota tubuhnya sendiri. Bayi yang sehat akan merespon sentuhan yang diberikan padanya. Respon yang ia berikan pada indra kulit yang termasuk panca indra ini sangat berguna untuk mengetahui tumbuh kembang anak.
3. Menghilangkan stres bayi
Bayi juga bisa mengalami stres. Ia akan mudah stres jika pengasuhnya tidak bergerak sehingga jadi bosan. Bayi yang merasakan energi negatif dari orang-orang di sekitarnya juga mudah mengalami rasa jenuh seperti halnya orang dewasa.
Menggelitik bayi dapat membuatnya tertawa sehingga bisa terbebas dari perasaan stres yang mengganggu pikirannya. Saat ia tertawa, ia akan kembali ceria.
4. Melatih anak melindungi tubuhnya
Pada balita yang sudah bebas bergerak, saat ia digelitik, ia akan tahu daerah mana yang sensitif di tubuhnya. Dari sana, ia akan belajar untuk melindungi anggota tubuh itu terutama saat terjadinya kontak fisik. *** diberita/dari berbagi sumber
Namun, siapa sangka banyak teori yang mengatakan menggelitik bisa menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak. Dilansir di Times of India, Sabtu (15/6), menggelitik dapat menjadi hal yang membahayakan karena bayi yang tak berdaya tak bisa memberi tahu apakah dia suka atau tidak atas perlakuan kepadanya.
Bahkan, jika mereka tak suka digelitik sama sekali, mereka juga tak akan bisa mengetahuinya. Ketika bayi merasa terengah-engah pun, bukan berarti mereka menikmati gelitik. Hal inilah yang membuat gelitik bisa menjadi perlakuan yang kejam.
Itulah sebabnya mengapa menggelitik tak boleh sembarangan, paling tidak sampai anak-anak bisa memberi tahu apa yang mereka rasakan ketika digelitik. Terkadang, respons terhadap gelitik yang otomatis keluar, seperti bersin, menjadi sebuah tanda, anak-anak tak selalu menikmatinya.
Kebanyakan orang dewasa pun tidak suka digelitik dan mereka bisa sangat vokal untuk menentang perlakuan itu. Hal demikian juga mengindikasikan bahwa anak-anak juga sebenarnya tak suka digelitik.
Gelitik yang tidak diinginkan juga dapat dilihat sebagai bentuk dominasi karena memperkuat gagasan pada bayi bahwa orang dewasa dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan pada tubuh mereka. Perjuangan untuk mendapatkan kendali atas tubuh mereka sendiri dapat meninggalkan mereka dengan kenangan buruk yang mungkin bertahan seumur hidup.
Secara historis, menggelitik digunakan sebagai cara untuk menyiksa orang, karena menyebabkan rasa sakit. Di Cina, selama Dinasti Han, penyiksaan dengan cara menggelitik sangat terkenal digunakan sebagai cara untuk menghukum para pelanggar.
Gelitik dipilih sebagai hukuman karena dapat menyebabkan banyak rasa sakit tanpa meninggalkan bekas yang terlihat pada tubuh.
Jadi, bila Anda memiliki bayi, sebaiknya jangan menggelitiknya. Ketika anak beranjak besar, Anda harus yakin apakah dia suka digelitik atau tidak.
Jika mereka berkata berhenti menggelitik, maka Anda harus berhenti menggelitiknya. Selain itu, ketika menggelitik, Anda juga harus memperhatikan sinyal, seperti kehabisan napas atau terengah-engah. Bila telah ada sinyal, maka segeralah berhenti.
Menyayangi bayi dan anak-anak dengan cara menggelitiknya sepintas tak berdampak kepada masalah apapun. Anak-anak pun terlihat "menikmati" karena tertawa terbahak-bahak.
Namun, siapa sangka banyak teori yang mengatakan menggelitik bisa menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak. Dilansir di Times of India, Sabtu (15/6), menggelitik dapat menjadi hal yang membahayakan karena bayi yang tak berdaya tak bisa memberi tahu apakah dia suka atau tidak atas perlakuan kepadanya.
Bahkan, jika mereka tak suka digelitik sama sekali, mereka juga tak akan bisa mengetahuinya. Ketika bayi merasa terengah-engah pun, bukan berarti mereka menikmati gelitik. Hal inilah yang membuat gelitik bisa menjadi perlakuan yang kejam.
Itulah sebabnya mengapa menggelitik tak boleh sembarangan, paling tidak sampai anak-anak bisa memberi tahu apa yang mereka rasakan ketika digelitik. Terkadang, respons terhadap gelitik yang otomatis keluar, seperti bersin, menjadi sebuah tanda, anak-anak tak selalu menikmatinya.
Kebanyakan orang dewasa pun tidak suka digelitik dan mereka bisa sangat vokal untuk menentang perlakuan itu. Hal demikian juga mengindikasikan bahwa anak-anak juga sebenarnya tak suka digelitik.
Gelitik yang tidak diinginkan juga dapat dilihat sebagai bentuk dominasi karena memperkuat gagasan pada bayi bahwa orang dewasa dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan pada tubuh mereka. Perjuangan untuk mendapatkan kendali atas tubuh mereka sendiri dapat meninggalkan mereka dengan kenangan buruk yang mungkin bertahan seumur hidup.
Secara historis, menggelitik digunakan sebagai cara untuk menyiksa orang, karena menyebabkan rasa sakit. Di Cina, selama Dinasti Han, penyiksaan dengan cara menggelitik sangat terkenal digunakan sebagai cara untuk menghukum para pelanggar.
Gelitik dipilih sebagai hukuman karena dapat menyebabkan banyak rasa sakit tanpa meninggalkan bekas yang terlihat pada tubuh.
Jadi, bila Anda memiliki bayi, sebaiknya jangan menggelitiknya. Ketika anak beranjak besar, Anda harus yakin apakah dia suka digelitik atau tidak.
Jika mereka berkata berhenti menggelitik, maka Anda harus berhenti menggelitiknya. Selain itu, ketika menggelitik, Anda juga harus memperhatikan sinyal, seperti kehabisan napas atau terengah-engah. Bila telah ada sinyal, maka segeralah berhenti.
Berikut ini alasan yang dikemukan bahaya menggelitik bayi
1. Bayi belum dapat menolak gelitikan
Saat orang tua menggelitik bayi, barangkali bayi memang tertawa. Tapi bukan berarti bayi senang. Hal ini diungkapkan oleh Tiffany Field, Ph.D., direktur di Touch Research Institutes di Sekolah Pengobatan Universitas Miami.
Tertawa adalah respon wajar ketika dikelitik. Namun, bahkan orang dewasa pun belum tentu suka. Apalagi, bayi belum bisa mengatakan kata “stop” seperti layaknya orang dewasa.
2. Bayi “belajar” pasrah diperlakukan apapun
Saat kita menggelitik bayi, bayi belum mampu menggelitik kita gantian. Di sini, bayi mulai belajar bahwa ia akan berada di posisi kalah dan pasrah mengahadapi “serangan” orang dewasa.
Dalam sebuah arikel di Hand and Hand Parenting, permainan tawa seperti itu disebut sebagai permainan yang tidak sehat untuk perkembangan anak.
3. Menggelitik adalah sebuah penyiksaan
Teknik menggelitik adalah salah satu metode yang digunakan untuk menyiksa tahanan Nazi. Penyiksaan ini dilakukan karena tidak ada seorang pun yang tahan dikelitik tubuhnya, apalagi secara agresif.
Anda memang akan tahu sampai mana batasan tertawa bayi. Namun, perlu hati-hati jika sang kakak yang melakukannya. Banyak tertawa bisa membuat bayi tersedak air liurnya sendiri.
4. Menggelitik bukanlah metode sensory yang baik untuk bayi
Sebuah jurnal menyatakan bahwa sentuhan tidak berhubungan dengan sensory bayi. Peneliti melakukan penelitian pada bayi usia 4 bulan dan 6 bulan. Kemudian, bayi tersebut memperoleh getaran yang membuat mereka tergelitik.
Hanya 70% bayi usia 4 bulan yang mengenali di mana sumber getaran. Sedangkan, pada bayi usia 6 bulan, 50% dapat mengenali sumber gelitikan dengan menyinglangkan kedua kakinya.
Peneliti menyimpulkan bahwa menggelitik dengan metode kaki yang disilangkan dan kaki yang tidak disilangkan pada bayi usia 4-6 bulan tersebut hanya menerima sentuhan setara dengan sentuhan pada tubuh yang lainnya. Tidak ada korelasi antara siapa yang menggelitik, apa yang didengar, dan aroma apa yang mereka terima.
Namun nyatanya tidak semua pihak sepakat tentang tidak baiknya menggelitik bayi, ada sejumlah pihak yang pro menggelitik bayi dengan alasan bahwa :
1. Mendekatkan ikatan dengan orang tua
Dalam sebuah risetnya, Charles Darwin menemukan fakta bahwa bayi simpanse akan lebih merespon dan dekat dengan yang lainnya apabila ada yang menggelitiknya. Hal ini dapat berlaku pada mamalia lain seperti manusia.
Ibu yang menggelitik bayi sedang membuat ikatan utama dengan anak. Hal tersebut juga dapat dikategorikan sebagai salah satu program interaksi neurologis ikatan antara ibu dan anak.
2. Melatih sensori bayi
Melatih sensori pada bayi bisa dimulai sejak dini, yaitu dengan anggota tubuhnya sendiri. Bayi yang sehat akan merespon sentuhan yang diberikan padanya. Respon yang ia berikan pada indra kulit yang termasuk panca indra ini sangat berguna untuk mengetahui tumbuh kembang anak.
3. Menghilangkan stres bayi
Bayi juga bisa mengalami stres. Ia akan mudah stres jika pengasuhnya tidak bergerak sehingga jadi bosan. Bayi yang merasakan energi negatif dari orang-orang di sekitarnya juga mudah mengalami rasa jenuh seperti halnya orang dewasa.
Menggelitik bayi dapat membuatnya tertawa sehingga bisa terbebas dari perasaan stres yang mengganggu pikirannya. Saat ia tertawa, ia akan kembali ceria.
4. Melatih anak melindungi tubuhnya
Pada balita yang sudah bebas bergerak, saat ia digelitik, ia akan tahu daerah mana yang sensitif di tubuhnya. Dari sana, ia akan belajar untuk melindungi anggota tubuh itu terutama saat terjadinya kontak fisik. *** diberita/dari berbagi sumber
Tags:
Kesehatan
